Perjalananku belajar di PKBM Manunggal Nusantara Cyber school

hai, perkenalkan nama aku hani 

Ketika pertama kali aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan lewat PKBM, perasaanku campur aduk. Di satu sisi, aku merasa antusias karena akhirnya bisa kembali belajar, tapi di sisi lain ada rasa ragu-apakah aku bisa mengikuti pelajaran setelah sekian lama berhenti sekolah? 


Aku bergabung dengan PKBM karena berbagai alasan. Salah satunya adalah kondisi keluarga yang membuatku harus berhenti sekolah formal. Tapi aku sadar bahwa pendidikan sangat penting, dan PKBM menjadi jalan yang memungkinkan aku untuk tetap belajar tanpa harus meninggalkan tanggung jawabku di rumah. 


Hari-hari pertamaku di PKBM sangat berkesan. Suasananya berbeda dari sekolah formal. Guru-guru di sini lebih terbuka dan memahami kondisi masing-masing peserta didik. Kami berasal dari latar belakang yang beragam -ada yang bekerja, ada yang ibu rumah tangga, bahkan ada juga yang sudah berusia lanjut tapi masih semangat menuntut ilmu. Semua itu membuatku semakin termotivasi. 

Yang paling aku sukai dari belajar di PKBM adalah pendekatan pembelajarannya yang fleksibel. Kami tidak hanya belajar teori, tapi juga banyak diskusi, praktik langsung, dan kadang belajar di luar kelas. Aku mulai menyukai pelajaran yang dulu kuanggap sulit, seperti matematika dan Bahasa Inggris, karena cara mengajarnya menyenangkan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. 


Selain itu, aku merasa lebih percaya diri. Di PKBM, aku diberi ruang untuk mengutarakan pendapat, ikut dalam kegiatan kelompok, bahkan pernah diminta menjadi moderator saat diskusi kelas. Pengalaman itu membuka mataku bahwa setiap orang punya potensi, termasuk aku. 


Kini, aku sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian kesetaraan. Harapanku, setelah lulus nanti, aku bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Tapi yang paling penting, aku merasa punya semangat baru untuk terus belajar dan berkembang. 


Bagi siapa pun yang merasa sudah terlambat untuk belajar, aku ingin bilang: tidak ada kata terlambat. PKBM memberiku kesempatan kedua, dan aku yakin masih banyak orang di luar sana yang bisa mendapatkan manfaat yang sama. Jangan pernah menyerah pada keadaan -pendidikan itu hak semua orang, dan harapan itu selalu ada selama kita mau berusaha. 



Keputusanku untuk ikut PKBM bukan tanpa alasan. Saat mondok, aku sadar bahwa ilmu agama penting, tapi ilmu umum juga tak kalah penting untuk menghadapi dunia yang terus berubah. Aku ingin bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, mungkin kuliah suatu saat nanti, tanpa harus meninggalkan pesantren. PKBM menjadi solusi terbaik.

Komentar